angga pangestika

CIA-Seal

 

Serangkaian teror bom telah melanda Tanah Air sejak lima tahun terakhir. Kelompok Jamaah Islamiyah dituding menjadi biang keladinya. Benarkah tidak ada tangan lain yang beraksi?
Buummm! Cuaca cerah di kawasan jalan Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, 9 September 2004 lalu seolah berubah menjadi kiamat. Bumi berguncang, asap putih laksana cendawan membubung tinggi. Pagar kedutaan besar Australia rusak; kaca-kaca gedung dalam radius 300 meter rontok dan pecah berkeping-keping. Enam pohon di pembatas jalan langsung meranggas, mobil-mobil yang lewat jebol kacanya, sepeda motor hangus, sementara puluhan orang di dekat pusat ledakan terkapar.

Tak pelak lagi, ledakan dahsyat di jantung kota Jakarta itu segera mengundang reaksi dunia, terutama para pemimpin Barat. Lima jam setelah ledakan, dalam konferensi pers di rumah sakit MMC, Kuningan, Kapolri Da’i Bachtiar langsung menunjuk hidung dua lelaki asal Malaysia, Dr. Azahari Husin dan Noordin M. Top sebagai otak pemboman itu. Kapolri mendasarkan tuduhannya pada analisis kesamaan modus pemboman itu dengan aksi pemboman di Kuta, Bali, 12 Oktober 2002, dan pemboman Hotel JW Marriott, Kuningan, 5 Agustus 2003. “Dari hasil analisis, pembuat bom adalah Dr. Azahari,” ujarnya.

Tidak hanya itu saja, lagi-lagi Kepala Polri menyatakan bahwa kelompok Jamaah Islamiyah berada di balik pemboman ini. Di samping kasus Bom Kuningan, Bom Marriott, dan Bom Bali, kelompok itu juga dituduh terlibat dalam kasus pemboman di depan rumah Duta Besar Filipina untuk Indonesia, 1 Agustus 2000; pemboman beruntun di malam Natal tahun 2000; bom di Mal Atrium, Senen, Jakarta; dan ledakan granat di dekat gudang Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta pada 23 September 2002.

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Hasyim Muzadi meragukan keberadaan Jamaah Islamiyah. “Ada atau tidak hanya orang intel yang tahu,” ujarnya kepada pers ketika polisi mulai menyebut-nyebut nama kelompok itu pasca pemboman di Kuta, Bali, beberapa waktu lalu.

“Binatang apa itu Jamaah Islamiyah? Saya ingin bukti dulu!” kata Ketua Pengurus Pusat Muhammadiyah M. Syafi’i Maarif pula. Ia tidak yakin organisasi itu benar-benar ada.

Lalu bermunculanlah dugaan bahwa terminologi baru Jamaah Islamiyah sebagai sebuah organisasi Islam hanya rekayasa intelijen untuk mendiskreditkan umat Islam. Kecurigaan ini dapat dimaklumi karena berdasarkan pengalaman sejarah, rekayasa dan stigmatisasi seperti ini sudah umum pada zaman Orde Baru. Dalangnya pun sudah jelas. Siapa lagi kalau bukan pemerintah Orde Baru yang militeristik.

Tengoklah berbagai investigasi terhadap sejumlah gerakan seperti Komando Jihad, Jamaah Imran, Jamaah Warsidi, gerombolan massa perusuh dalam Peristiwa Malari, juga peristiwa Cicendo dan Tanjung Priok. Menurut mantan Wakil Ketua MPR Muhammad Husni Thamrin, beberapa kerusuhan itu bermula dari operasi intelijen yang digalang aparat keamanan. “Hampir semua kerusuhan itu pekerjaan Ali Moertopo,” ujarnya. Saat itu Ali Moertopo menjabat sebagai Kepala Operasi Khusus dan Wakil Kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara (BAKIN).

Menurut penjelasan seorang bekas perwira tinggi TNI, agen-agen BAKIN yang ditanam dalam beberapa faksi elemen kelompok Islam memang acap kali “dipakai” dalam operasi intelijen. Biasanya, mereka dimanfaatkan untuk mematangkan situasi agar aparat bisa menggebug orang-orang yang dibidik setelah mereka muncul ke permukaan. “Kami dulu memang dilatih untuk melakukan hal-hal semacam itu,” kata sang perwira yang kini mengaku sudah insyaf itu.

Husni Thamrin, misalnya, bercerita tentang rekayasa aparat dalam kasus Tanjung Priok, 12 November 1984. Dalam sebuah diskusi yang dihadiri Ali Moertopo, Husni Thamrin mempertanyakan kebijakan pemerintah yang terus-menerus menekan umat Islam, padahal mereka sudah menerima asas tunggal. Namun, Ali tidak menggubris. Ia bahkan mengatakan, “Tunggu saja apa yang akan terjadi di Tanjung Priok!” Padahal peristiwa kerusuhan itu baru terjadi setengah tahun kemudian.

Menjelang terjadinya peristiwa kerusuhan di Tanjung Priok itu, Husni pun merasakan keanehan yang terjadi di sana. Saat itu khutbah-khutbah Jumat yang mengecam pemerintah “ditertibkan”. Beberapa khatib pun diinterograsi dan dijebloskan ke bui. Anehnya, di Tanjung Priok justru terkesan dibiarkan. Beberapa kali ia diundang ke sana, namun ditolaknya. “Ternyata perkiraan saya benar. Mereka mencoba memancing kita untuk kemudian dihabisi,” ujarnya.

Peristiwa spektakuler lainnya adalah pengakuan Haji Ismail Pranoto alias Hispran, Pemimpin Komando Jihad dalam sidang pengadilan yang menyidangkan kasusnya pada tahun 1980-an. Menurut Hispran, aksi Komando Jihad dilakukan atas persetujuan Ali Moertopo. Karena itu, ia pun meminta pengadilan untuk menghadirkan sang jenderal. Namun belakangan, sebelum Ali Moertopo dihadirkan, ia tewas secara misterius. “Ia diracun,” kata seorang tokoh Islam.

Akan tetapi, hasil investigasi dan temuan media massa kali ini cukup mencengangkan. Tidak seperti pada masa Orde Baru yang serba tertutup, kini beberapa orang yang didakwa terlibat dalam kasus Bom Bali berhasil diwawancarai media massa. Para tersangka seperti Imam Samudera, Ali Imron, dan beberapa tersangka kasus pemboman lainnya telah mengakui bahwa mereka adalah pelaku pemboman tersebut.

Meskipun demikian, sebagian masyarakat masih meragukan keterlibatan murni mereka. Apalagi penyebutan keterlibatan kelompok Jamaah Islamiyah dalam serangkaian teror bom dahsyat selama empat tahun terakhir ini. Sebab, tidak lama sesudah pemboman di Kuningan, Menteri Luar Negeri Australia diberitakan mengetahui akan adanya serangan bom itu 45 menit sebelumnya lewat pesan pendek SMS. “Saya mengetahui adanya SMS ini tadi pagi,” kata Downer, usai bertemu dengan Kapolri Jenderal Da’i Bachtiar di Mabes Polri ketika itu.

The International Crisis Group pun mengendus beberapa aspek mencurigakan dalam jaringan pemboman itu. Misalnya, saat membahas keterkaitan Jamaah Islamiyah dengan Gerakan Aceh Merdeka. Dalam tulisan yang berjudul “Bagaimana Jaringan Teroris Jamaah Islamiyah Beraksi”, disebutkan bahwa almarhum Fauzi Hasbi Geudong, salah satu pembelot GAM yang sering kontak dengan Jamaah Islamiyah, adalah informan aparat intelijen. “Ia menganggap Hambali putranya sendiri,” tulis ICG. Hambali adalah orang yang disebut-sebut sebagai matarantai jaringan al-Qaidah di Asia Tenggara.

Fauzi Hasbi Geudong juga dikabarkan mengenal Omar al-Faruq, warga Kuwait yang diciduk Badan Intelijen Negara (BIN) dan kemudian diserahkan kepada Biro Intelijen Federal Amerika Serikat (Federal Beureau Infestigation/FBI) tahun lalu. “Dia pernah tidur di rumah saya 3 malam,” ujarnya kepada Majalah TEMPO sebelum diculik dan dibunuh di Ambon Februari tahun lalu.

Keterlibatan agen BIN bernama Abdul Haris dalam kasus penangkapan al-Faruq, di Bogor, 5 Juni 2002 juga sempat terendus majalah TEMPO. Konon, Abdul Haris yang punya posisi sebagai Ketua Hubungan Antar Mujahiddin di Majelis Mujahidin Indonesia adalah orang yang membantu Faruq menguruskan paspornya. Namun belakangan, menurut majalah TEMPO, ia disebut polisi sebagai agen utama BIN yang ikut mendampingi Brigjen Aryanto Sutadi saat menginterograsi Faruq di Bagram, Afganistan.

Majalah TEMPO juga mendapatkan informasi dari Imam, tangan kanan Fauzi. Ia mengaku telah dua kali menemani Fauzi dan Hambali ke markas BIN di kawasan Pejaten, Jakarta Selatan. Pada kali pertama hanya Fauzi yang menghadap pejabat BIN, sementara Hambali menunggu di mobil bersamanya. “Yang kedua, Hambali ikut turun menghadap pejabat itu,” ujarnya kepada majalah itu.

Sementara itu, bekas Kepala BAKIN Letjen Purn. ZA Maulani, di majalah GATRA mengungkapkan tentang operasi intelijen yang disebut false flag. Menurut dia, false flag adalah kegiatan atau operasi yang dilakukan suatu pihak sehingga dampak kejadian itu akan dinisbatkan kepada pihak yang dikehendaki. Israel dan AS dikenal sangat sering melancarkan operasi false flag dalam rangka menyudutkan lawan-lawan mereka.

Ia mencontohkan peristiwa ledakan bom yang terjadi di Filipina, 16 Mei 2002. Saat itu seorang laki-laki yang dikenal sebagai pemburu dan pedagang barang antik berkebangsaan Amerika, Michael Meiring (65), ditemukan terkapar di kamar Evergreen Hotel, di Ramon Magsaysay Avenue, Manila. Ia bergelimang darah dengan kaki dan tangannya bergelayutan hampir putus. Rupanya ia tengah merakit bom di kamarnya namun keburu meledak. Tentu saja Kejaksaan Manila menuduh Meiring sebagai teroris.

Namun, atas perintah Gedung Putih kepada Kedutaan Besar AS di Manila, Meiring segera diungsikan dari tempatnya ditahan dan dirawat, Davao Medical Mission Hospital, dengan pesawat carter khusus. Ia pun langsung diterbangkan ke San Diego, California, pangkalan angkatan laut AS terbesar, dengan kawalan khusus. Pihak imigrasi Filipina menggambarkan bahwa lelaki itu dikawal agen-agen US National Sucurity Agency dan FBI. Wakil Konsul AS di Davao, Michael Newbill, atas perintah Kedubes di Manila, langsung melunasi kuitansi tagihan rumah sakit pula.

Koran Manila The Times kemudian mengutip keluhan seorang pejabat Departemen Kehakiman Filipina. Pejabat itu bercerita bahwa mereka menerima surat dari Kedubes AS yang berisi larangan jika Meiring dituduh sebagai teroris sehubungan dengan kasus ‘kecelakaan’ di hotel itu. Penyelidikan ke arah itu harus dihentikan. Pemerintah Filipina pun tidak kuasa menolaknya.

The Manila Times pun mengungkapkan bahwa Meiring sebenarnya agen CIA. Sehari-hari ia mengaku sebagai penggemar dan pedagang barang-barang antik. Meiring mondar-mandir selama 10 tahun di Davao. Ia bukan hanya bersahabat karib dengan para petinggi di Mindanao Selatan, dengan perwira-perwira kepolisian, tetapi juga dekat dengan tokoh mantan ketua Moro Islamic Liberation Front (MILF) Nur Misuari, ketua Hashim Selamat, tokoh MNLF panglima Tony Masa, dan beberapa orang lagi di Kotabato yang berperan sebagai penghubung dengan kelompok Abu Sayyaf, bahkan juga dengan pemimpin The New People’s Army yang komunis, Romo Navarro.

Selama itu ia diketahui membelanjakan uang jutaan dolar, sedangkan sumber dananya tidak jelas. Menurut The Times, sebagian dolar itu berasal dari kelompok Abu Sayyaf. Menurut bualan Meiring kepada kawannya David Hawthorn yang menceritakan kepada The Times, uang itu berasal dari jual-beli ‘barang-barang antik’. Akan tetapi, intel Filipina mencium duit itu berasal dari jual-beli bahan peledak dengan pemberontak MILF, MNLF, Abu Sayyaf, dan berbagai kelompok pemberontak lainnya.

Sebuah studi dari Rand Coorporation menyarankan agar pemerintah AS membangun kembali pangkalan militernya di Filipina. Operasi serangan gerilya dan peledakkan bom yang menjadi-jadi di Mindanao Selatan dan Manila oleh kelompok yang dikoordinasi Meiring, membuat pemerintah Arroyo menyetujui ‘bantuan’ berupa penguatan pasukan Amerika ke Mindanao Selatan untuk menumpas ‘teroris’ Islam MILF, Abu Sayyaf, dan lain-lain.

Tiga tahun pasca Tragedi WTC, peta dan wajah politik internasional telah berubah. Kini situasinya mirip dengan saran ilmuwan AS, Samuel Huntington yang menempatkan ‘Islam fundamentalis’ sebagai musuh utama dunia internasional. Karena itu, kini kaum Muslim, termasuk yang berada di Indonesia, harus memahami benar situasi ini. Kehati-hatian sangat diperlukan agar mereka tidak terjebak dalam skenario Perang Dingin Baru ini. Tengoklah dampak Tragedi WTC, Bom Bali, dan bom-bom lainnya terhadap kaum Muslim di penjuru dunia. Aksi-aksi pemboman itu —jika benar dilakukan sebagian kaum Muslim— terbukti justru menyulitkan posisi kaum Muslim sendiri dalam perjuangan melawan kezaliman global.

Memperluas Dugaan Pelaku Bom

Teror bom yang selama ini terjadi jelas bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri, yang lepas dari konstelasi internasional. Kampanye AS dalam perang melawan terorisme, persaingan Inggris-AS sebagai penjajah dalam rebutan pengaruh, serangan ke Irak dan Afganistan, dan pendudukan Israel di Palestina merupakan setting internasional yang turut mempengaruhi. Karena itu, menjadikan kelompok Islam sebagai pihak yang terus-menerus dituduh sebagai pelaku adalah pembodohan politik yang berbahaya.

Memperluas kemungkinan pelakunya AS dan negara-negara Barat adalah sangat rasional. Sebab, AS adalah pihak yang sebenarnya paling diuntungkan oleh berbagai aksi teror ini. Pemboman-pemboman yang mengorbankan rakyat sipil dan bukan pada wilayah perang justru akan memperkuat ‘arahan’ oponi internasional bahwa terorisme itu kejam dan tidak berperikemanusiaan, karenanya layak diperangi. Kalau opini seperti ini terbangun, bukankah hal itu justru memperkuat legitimasi kampanye perang melawan terorisme AS, yang masih lemah argumentasinya?

Memang, sebagai pelaku, bukan berarti AS —melalui agen-agennya— secara langsung terlibat dalam berbagai kasus peledakan tersebut, tetapi ia bisa menggunakan agen-agen lokal yang dibayar; bisa memperalat agen-agen Israel yang dikenal canggih; dan bisa juga menciptakan kondisi yang direkayasa sedemikian rupa hingga pelakunya justru muncul dari elemen Islam sendiri, yang sadar atau tidak mereka telah diperalat untuk kepentingan AS .

Tidak bisa juga dilupakan, bahwa selama ini ada persaingan yang kadang-kadang terbuka tetapi juga sering tersembunyi antara kekuatan-kekuatan negara penjajah, seperti antara AS dan Inggris. Persaingan ini sangat terasa di Timur Tengah. AS berupaya keras menggeser dominasi Inggris di negeri kaya minyak ini. Momen penting untuk itu adalah serangan Irak ke Kuwait. Sudah barang tentu Inggris yang sebelumnya memiliki pengaruh yang dominan di Timur Tengah tidak berdiam diri. Untuk secara langsung melawan AS, tidak memungkinkan bagi Inggris saat ini. Jadi, cara yang paling mungkin adalah seakan-akan menjadi mitra koalisi AS tetapi membuat jebakan untuk mengacaukan keinginan AS. Kekacauan terus-menerus di Irak atau Pakistan merupakan contoh kasus yang mengacaukan planning AS untuk menguasai daerah ini, yang bisa jadi pelakunya adalah agen-agen Inggris.

Memang, kalau ditanya pelaku langsung, ada kemungkinan elemen kelompok umat Islam yang terlibat, setidaknya dari pengakuan-pengakuan yang ada selama ini. Namun, kemungkinan elemen Islam ini dijebak atau diperalat adalah juga sangat logis. Bukti sederhana, bagaimana pelaku Bom Bali, meski mengakui merekalah yang meledakkan, mereka tidak menyangka bahwa bom mereka sedahsyat itu. Lantas dari mana bom yang begitu dahsyat tersebut?

Reaksi Terhadap Kezaliman AS

Perlu juga diungkap bahwa tindakan pemboman ini, lepas dari siapapun pelakunya, muncul sebagai reaksi dari perlawanan terhadapan penindasan dan dominasi AS di dunia internasional. Roger Garaudi, salah seorang intelektual Barat, melihat faktor utama pendorong munculnya ‘fundamentalisme’ Islam adalah kolonialisme Barat, dekadensi Barat, dan munculnya fundamentalisme zionis Israel. Pendudukan Israel di Palestina diungkap pula sebagai faktor utama. Pendapat ini muncul antara lain dari Yvonne Haddat, profesor sejarah Islam Universitas Massachussets. Dalam debat terbuka antarcapres AS, John Kerry dan Goege W. Bush, terungkap bahwa tindakan terorisme semakin banyak muncul justru sejak AS menyerang dan menduduki Afganistan dan Irak.

Berdasarkan pengakuan dari para pelaku Bom Bali, terungkap pula bahwa apa yang mereka lakukan adalah sebagai reaksi dari kekejaman AS terhadap umat Islam. Di Irak dan Afganistan, ribuan kaum Muslim terbunuh dalam skenario perang melawan terorisme yang sering didasarkan atas argumentasi bohong seperti senjata pemusnah massal. Penyiksaan di penjara Abu Ghuraib semakin memperluas kebencian umat Islam terhadap AS. Belum lagi dukungan AS yang membabi buta terhadap Israel, yang secara sistematis membunuh dan menghancurkan kaum Muslim di sana. [Majalah al-wa’ied, Edisi 51]

Ketika duduk sambil menikmati secangkir susu, tiba-tiba di pikiran terlintas selentingan ingatan pengalaman pengerjaan proyek pengembangan software. Mengapa proyek pengembangan software selama saya bekerja tidak pernah memuaskan end user ? kira-kira inilah penyebab utamanya ;

  • Buruknya Requirement Dari user

Selama end user tersebut bekerja tak pernah memiliki pengalaman terlibat pembuatan software dan terbiasa mengggunakan software / Sistem Informasi yang sudah jadi untuk menunjang pekerjaan dan tak ada pemahaman terhadap proses bisnis yang dia serap selama bekerja. Alhasil ketika dia diminta untuk menceritakan apa saja kebutuhannya dan alur sistem-nya seperti apa , end user tersebut tidak bisa menjelaskan, karena end user tersebut bekerja hanya mengikuti tradisi Standard Operating Procedure layaknya pegawai kelurahan yang hanya melakukan urusan administrasi saja tanpa tahu keterkaitan data antar bagian/divisi pada perusahaan.

  • Tidak Adanya System / Business Analyst

Saya tidak pernah merasakan kehadiran dan peran Business Analyst ketika terlibat proyek, justru saya sendirilah yang Programmer yang merangkap Business Analyst.. Hehehe…😀 . Seharusnya seorang programmer adalah layaknya seorang perakit yang hanya tahu seluk beluk perakitan tidak perlu banyak tahu menahu design-nya seperti apa. Inilah yang membuat proyek agak molor pengembangannya karena Programmer harus memahami aspek keilmuan dan proses bisnis yang harus digarap.

Kira-kira segini dulu tulisan saya, nanti bakal saya tambah lagi

Test test

Just “Hello World”

Ketika saya kuliah tepatnya saat menginjak semester 3 sekitar tahun 2006, saya berkenalan dengan bahasa PHP. Terus terang entah kenapa saya sebenarnya kurang tertarik dengan bahasa ini, tetapi karena pada saat itu yang lagi booming di kampus adalah PHP, ya…agak gengsi sedikit sih jadi ikutan belajar.

Ketika saya lulus kuliah saya mencoba melamar menjadi Programmer Web / Web Developer dengan bahasa PHP di sebuah perusahaan Digital Agency. Sialnya diterima kerja, padahal saya sendiri tidak mempunyai kemampuan membuat listing program secara clean, biasa copas copas😛 hehe . Yang paling saya bisa hanya membuat barisan code yg melegenda😀.

This is Hello World …. Yeah

<?php
echo "Hello World";
?>

contekan (suka lupa)

SELECT * FROM msmhs WHERE ASSMAMSMHS = “” ;
UPDATE trnlm SET BOBOTTRNLM = REPLACE(BOBOTTRNLM,”0″,””);

Ok coy…. Langsung aja nih ….Driver Compaq Laptop adek gw

1. Langkah pertama yang biasa saya lakukan setelah menyelesaikan instalasi windows XP adalah dengan melakukan instalasi chipset. File ini bisa didapat di:

http://www.4shared.com/file/78213726/d4d7336c/Intel.html

Biasakan untuk melakukan restart setelah melakukan instalasi hardware agar tidak terjadi crash pada saat pemakaian.

2. Install VGA driver.

http://downloadmirror.intel.com/13301/a08/win2k_xp1429.zip

3. Instal Microsoft UAA Bus Driver. File ini digunakan untuk instalasi driver sound HDA dan modem HDA. File ini bisa didapat di:

ftp://ftp.hp.com/pub/softpaq/sp33501-34000/sp33867.exe atau

ftp://ftp.hp.com/pub/softpaq/sp32501-33000/sp32646.exe

Biasanya, setelah melakukan instalasi file diatas akan diminta restart, kemudian muncul sedikit permasalahan. Silahkan masuk ke device manager dan perhatikan pada bagian system device. Disitu akan muncul PCI device dengan tanda seru. Hapus PCI Device ini, dan lakukan kembali scan for hardware changes. Secara otomatis akan muncul found new hardware. Nah, pada bagian ini akan muncul “Audio device on High Definition Audio Bus”, dan Modem device. Tinggalkan bagian ini dan lanjutkan dengan bagian nomer 4.

4. Download driver sound di:

http://www.4shared.com/file/78205074/5aeac6ec/ConexantHDAudio_221_XP.html

(cari file ini aga lumayan suuuliiitt, tapi dengan keteguhan akhirnya dapet juga,🙂 )

Extrak file diatas dan jalankan file setup.exe yang terdapat pada folder XP32.

5. Untuk modem driver bisa menggunakan driver win vista, dan bisa diunduh di:

ftp://ftp.hp.com/pub/softpaq/sp37501-38000/sp37817.exe

Double klik file diatas, dan ikuti perintah selanjutnya. Otomatis akan terinstal dengan aik modem driver.

6. Untuk quick launch button, bisa di download di

ftp://ftp.hp.com/pub/softpaq/sp40001-40500/sp40139.exe

7. Lan atau ethernet card yang dipakai pada tipe ini adalah Marvel Yukon. Silahan di download di:

http://www.4shared.com/file/78206731/59164e0c/yk51×86_v10612_inbuild.html

7. Untuk wifi, menggunakan broadcom.

ftp://ftp.hp.com/pub/softpaq/sp37501-38000/sp37950.exe

8. Media card reader

ftp://ftp.hp.com/pub/softpaq/sp32501-33000/sp32825.exe

9. HP integrated modul:

ftp://ftp.hp.com/pub/softpaq/sp34001-34500/sp34264.exe

10. Touchpad

http://drivers.synaptics.com/Synaptics_Driver_v10_1_8_XP32.exe

11. Selesai.

Semoga artikel diatas dapat membantu teman-teman yang kesulitan untuk instalasi windows xp di compaq v3837TU. Ternyata tidak ada hal yang tidak mungkin terjadi didunia. Jangan lupa memberi tahu apabila ada dead link. Bila ada nanti akan segera saya ganti dengan link yang baru.

Angga Pangestika

KOPASSUS THE RED BERET

Ho..ho..udah lama gw ga ngblog…, karena bingung ga ada yang bisa gw tulis, terpaksa gw copy paste dari blog tetangga. Karena Gw kagum sama kiprah KOPASSUS Gw bakal sedikit mengulas tentang pasukan elite kebanggaan negeri kita yaitu KOPASSUS.

Motto : BERANI — BENAR — BERHASIL

Kilasan Sejarah Kopassus dibentuk oleh Kolonel E Kawilarang yang waktu menjabat Sebagai Panglima TT III / Tentara Teritorium siliwangi. Ia memanggil seorang bekas tentara KNIL yang memilih menjadi WNI, ketika terjadi perang DI/TII,namanya Mayor Ijon Jambi (orang Belanda, Nama aslinya RB Visser).

Kopassus diresmikan oleh AH Nasution pada waktu itu dan hanya 6 bulan berada dibawah TT III Siliwangi sebelum akhirnya dimabil alih oleh AD. Baretnyapun berwarna merah, karena memang mengambil alih konsep pasukan Belanda “roode baret”. Mengenai warna baret ini perlu kita ketahui bersama bahwa seluruh pasukan khusus di dunia menggunakan warna hijau, sedangkan pasukan “airborne/ lintas udara” nya berwarna merah. Tapi di Indonesia terbalik, justru pasukan
khususnya yang menggunakan baret warna merah.

Struktur Organisasi saat ini Kopassus terdiri atas 5 Grup (istilah grup hanya dipakai oleh Special Forces dibeberapa negara didunia, sedangkan tentara pada umumnya menggunakan istilah Batalyon, Detasemen, Brigade dan Divisi). Setiap Grup dipimpin oleh seorang Pamen berpangkat Kolonel. Dari prajurit sampai dengan Kolonel adalah tentara yang profesional dan terlatih terus, baik secara fisik maupun mental. Jadi jangan dibayangkan bahwa semakin tinggi
pangkat atau tua usia seorang prajurit Kopassus itu akan jadi lamban seperti tentara pada umumnya. Sangat sulit menemukan anggota ABRI yang pensiun di Kopassus, karena begitu fisiknya tidak memadai, Ia akan langsung mutasi ke Satuan lainnya.

Grup ini baru dimekarkan oleh Letjen Prabowo beberapa bulan lalu, sehubungan dengan AGHT (Ancaman, Gangguan, Hamabatan dan Tantangan) yang ada di depan kita di masa mendatang. Diperkirakan tidak akan ada perang dalam skala besar tapi justru skala kecil intensitas tinggi (terorisme, penculikan dll). Sebagai mana
layaknya Pasukan Khusus didunia, maka Kopassus dibentuk untuk menghadapi perang dalam skala kecil tapi berintensitas tinggi, seperti terorisme.

Grup 3 berlokasi di Batujajar, Jabar (dekat Cimahi) dan merupakan
Pusdikpasus (pusat Pendidikan Kopassus). Tempat latihannya berada disekitar Bandung sampai dengan Cilacap. Group 1 – 3 bekualifikasi PARA KOMANDO (semua anggotanya harus Mengikuti latihan terjun payung dasar/tempur )

Grup 4 disebut Sandhy Yudha dan berlokasi di Cijantung Jakarta, merupakan orang pilihan dari 3 grup pertama yang dilatih kembali menjadi berkualifikasi Intelejen Tempur, dengan tugas menghancurkan lawan digaris belakang pertahanan lawan (penyusupan).

Mereka adalah tentara profesional yang dalam pergerakannya dalam bentuk Unit (istilah dalam Special Forces, dalam tentara biasa disebut Regu, Peleton atau Kompi) berjumlah sekitar 5 orang. Dalam masa damai seperti saat ini, mereka mendapat tugas Intelejen Teritorial, misalnya mengetahui karakteristik demografi suatu daerah, pendukung dana yang bisa dimanfaatkan, tokoh-tokoh masyarakat, preman-preman dll.

(Sebagai informasi saja, bahwa sejak bulan Juni 1997, Kopassus mengirimkan team kecilnya keseluruh kota-kota besar di Indonesia dengan tugas RAHASIA, karena ABRI yang lainpun tidak mengetahui dengan pasti apa tugas mereka. Di beberapa lokasi / Kodam, tentara lokalnya bahkan tersinggung karena seolah-olah dianggap tidak mampu me manage daerahnya. Mereka ditarik kembali ke Jakarta pada bulan Januari 1998).

Kehebatan lain Grup ini adalah pola perilaku dan penampilannya yang sama sekali tidak mirip tentara . Misalnya cara bicara tidak patah-patah, rambut panjang, tidak pernah menghormat atasan atau yang pangkatnya lebih tinggi bila bertemu di luar Ksatrian mereka. Jadi sangat jauh dengan gaya Serse Polisi atau Intel Kodim dll. yang kadangkala justru menunjukkan kalau dirinya Intel. Mereka tidak ngantor setiap hari dan sangat jarang pakai seragam, hanya pada saat tertentu saja mereka kembali ke kantor (misalnya 2 minggu sekali untuk laporan atau mendapat tugas baru). Jadi pada prinsipnya
mereka sangat aktif berkecimpung dalam kehidupan masyarakat biasa misalnya di RT/RW, Perkumpulan Terjun Payung, Jeep Club dll. (terutama bagi mereka yang tidak tinggal di Ksatrian). Group ini
sangat profesional dalam penyamarannya dan juga sudah mendapatkan pendidikan
Perang Kota dari Green Beret US Army. Di Timor Timur, Aceh dan Irian (3 hot spot di Indonesia yang sering digunakan sebagai ajang latihan juga) mereka menyusup sampai ke kampung -kampung dan membentuk basis perlawanan terhadap GPK dari masyarakat lokal sendiri. Oleh karenanya kemampuan menggalang massa nya sangat terlatih.

Grup 5 (atau yang dikenal sebagai Detasemen 81, karena keberhasilannya dalam peristiwa pembajakan pesawat di Don Muang, Muangthai tahun 1981) adalah orang pilihan dari Group 4 dan merupakan yang terbaik yang dimiliki Kopassus. Mereka memiliki Ksatrian tersendiri di Cijantung dan terisolir. Klasifikasinya adalah ANTI TERORIS dan akan selalu mengikuti perjalanan kenegaraan Presiden. Pengetahuan orang bahkan ABRI sendiri tentang Grup ini
sangat minim, karena mereka sangat terisolir dan rahasia. Sebuah sumber mengatakan bahwa mereka mengikuti pola GSG 9 Jerman (Pasukan elite polisi Jerman, yang berhasil dalam pembebasan sandera di Kedutaan besar Jerman di Iran). Mengingat Prabowo adalah satu-satunya Perwira Indonesia yang pernah lulus dalam pendidikan anti teroris di GSG 9.

Namun demikian saat ini mereka sudah mulai mencampurkan pola latihannya sehubungan dengan banyaknya perwira yang dilatih oleh Green Berets US Army (misalnya Mayjen Syafrie Syamsudin). Peralatan yang mereka miliki sangat canggih dan tidak ada bedanya dengan satuan elite tentara lainnya di dunia.

LATIHAN

Jadi pendidikan awal seorang Kopassus adalah mengambil kualifikasi KOMANDO yang harus dijalani sekitar 6 bulan. Materi latihan meliputi Perang Hutan, Buru Senyap, Survival (dilakukan di daerah Situ Lembang dilanjutkan dengan long march ke Cilacap untuk latihan rawa laut, survival laut, pendaratan pantai dll.

Selain itu juga mereka harus mengambil pendidikan PARA DASAR Tempur dengan materi yang meliputi terjun malam, terjun tempur bersenjata dan diterjunkan di Hutan (membawa senjata, ransel, payung utama dan payung cadangan).

Dalam semua latihannya mereka akan menggunakan peluru tajam, oleh karenanya tidaklah heran bila hampir dalam setiap latihan selalu ada siswa yang meninggal dunia karena berbagai sebab (kelelahan, kecelakaan dll).

Standard yang dipakai di Kopassus sangat amat ketat, bagi yang fisiknya kurang mampu atau mentalnya lemah, jangan harap bisa bertahan didalam latihan ini, atau di Satuan ini. Kesalahan sekecil apapun tidak akan ditolerir, karena memang tugas mereka sangat berbahaya. Setiap anggota Kopassus harus memiliki keahlian khusus seperti menjadi penerjun payung handal (Combat Free Fall), penyelam, penembak mahir (sniper), Daki Serbu, Komputer/perang elektrokika, perang psikologi, menguasai sedikitnya 2 bahasa
daerah bagi para tamtama dan bintara dan bahasa asing untuk para perwiranya.

Mereka diseleksi secara ketat, baik oleh Team Kes AD (Kesehatan), PSIAD (Dinas Psikologi AD) dan Team Jas AD (Jasmani/Kesemaptaan). Proses seleksi ini pada dasarnya berjalan terus menerus sampai dengan selesainya latihan, seorang Pasis (Perwira Siswa) yang melakukan kesalahan pada hari terakhir latihan, akan langsung dipecat, artinya tidak ada kompromi. Oleh karenanyalah, LOYALITAS terhadap perintah atasan sangat penting dalam organisasi ini.

PERLENGKAPAN

Kopassus merupakan tentara pilihan dan mereka tidak mentolerir kesalahan dalam operasi sekecil apapun (Safety First), oleh karenanya perlengkapan yang mereka pakai sangat jauh berbeda dengan tentara lainnya. Perlengakapan mereka sangat canggih dan modern, misalnya saja untuk membaca peta, sudah tidak menggunakan lagi Kompas Prisma, tapi GPS (Global Positioning System) yang langsung berhubungan dengan Satelit; dengan hanya menekan satu tombol
saja, mereka akan mengetahui dengan tepat posisinya , jarak yang akan ditempuh bila akan menuju ke koordinat tertentu.

Grup antiterornya menggunakan senapan H&K MP5 , yang merupakan standar pasukan khusus terbaik di dunia seperti Green Berets, Delta Force, Navy Seal, GSG 9 Jerman, SAS dll. Pistol yang dipakai Beretta 9 mm (.45), selain itu juga berbagai macam kaliber lainnya seperti kaliber .22 (pistol kecil). Apabila peralatan yang mereka pakai sudah saatnya diganti (menurut manual) maka akan segera diganti. Hal ini sangat jauh berbeda dengan tentara lainnya yang cenderung konvensional dan melakukan tambal sulam terhadap peralatannya.

Mereka punya peralatan terjun payung tercanggih untuk melakukan HALO (High Altitude Low Opening) dan HAHO (High Altitude High Opening) yang memakai masker oksigen dll. Penerjunan ini dilakukan setinggi mungkin, sekitar 10.000 feet dan kemudian dia akan melayang dan membuka payungnya serendah mungkin guna menghindari radar lawan (agar tetap tampak seperti burung yang
melayang diudara di radar lawan).

Peralatan pendaratan pantai (memiliki LCR/Landing Craft Rubber/Perahu karet dengan mesin yang hampir tanpa bunyi, yang digunakan untuk operasi penyusupan dimalam hari), menyelam (dilatih seperti UDT, Underwater Demolition Team US Navy,), team Daki Serbu ( yang baru saja menaklukkan Himalaya dan dikenal di luar sebagai PPGAD/Persatuan Pendaki Gunung TNI AD).

Kehebatan Kopassus adalah mereka tidak segan-segan untuk meminta bantuan pihak lain yang dianggap ekspert dibidangnya seperti PADI untuk menyelam, AVES untuk terjun payung, Wanadri untuk naik gunung dll. yang dalam perjalanannya kemudian akan mereka modifikasi sendiri untuk keperluan tempur dan malahan menjadi lebih hebat.

Sebagai sebuah Satuan mereka memiliki Dinas Hub (Perhubungan) sendiri yang sangat canggih dan memiliki sistem perhubungan portable yang mandiri dan Satelite Mobile Phonet, Kes (Kesehatan) sendiri, Pal (Peralatan) sendiri dengan persenjataan yang canggih, Bek (Perbekalan) sendiri, Ang (Angkutan) sendiri, dengan mobil-mobil Hummer, mobil dipantai dll.

Bahkan mereka merencanakan untuk membeli helikopter sendiri dari Rusia (namun gagal karena Krismon). Jadi pada prinsipnya mereka sangat mandiri, termasuk memiliki sejumlah panser.

Kesimpulan & Keunggulan

1. 1 orang Kopassus dapat disetarakan dengan minimal 3 orang tentara biasa, karena ybs dilatih dengan berbagai ketrampilan (komunikasi radio, menembak, P3K dll). Di tentara biasa hal ini tidak dijumpai;
2. Kedisiplinan dan loyalitas yang tinggi terhadap tugas;
3. Biaya pelatihan bagi seorang Kopasssus sangatlah mahal;
4. Peralatan yang canggih dan tepat guna;
5. Secara umum kesejahteraan anggota Kopassus lebih baik dibandingkan tentara pada umumnya, terutama ketika dibawah Prabowo, karena ia sangat memperhatikan hal ini. (misalnya bila ada lelangan mobil di Bimantara dll., maka mobil bekas tersebut akan segera di beli oleh Kopassus untuk dijual murah kepada anggotanya /perwira);
6. Sangat jarang bagi mereka tinggal dirumah, selalu latihan dan operasi;
7. Mereka adalah tentara profesional yang tidak pernah ragu untuk mengambil keputusan dalam membela negaranya dari bahaya
8. Sangat amat jarang ditemukan anggota Kopassus yang bekerja menjadi SATPAM di industri-industri, sebagaimana sering ditemui terjadi pada tentara lainnya. Karena relatif taraf ekonomi mereka lebih terjamin sehubungan dengan adanya YAYASAN KOBAME (Korps Baret Merah)
9. Cara-cara mereka beroperasi sangat profesional (dalam pengertian tentara misalnya tehnik membunuh, kontra intelejen, agitasi, propaganda, perang psikologi, penggalangan massa, menguasai berbagai macam type senjata).

Saya tidak mengartikannya dalam konteks HAM dan hukum positif.

Info Tambahan:

Sebenarnya Indonesia juga mempunyai pasukan khusus lainnya milik TNI AL, namanya DEN JAKA yang bermarkas di Jakarta dan dipimpin oleh seorang mayor (dikenal dekat dengan Prabowo). Pasukan ini memiliki kemampuan UDT (Underwater Demolition Team) dan dilatih secara intensif oleh US Navy Seal. Mereka aktif terlibat dalam menangkal masuknya kapal Louisiana Expresso beberapa tahun yang lalu di perairan Timtim. Detasemen ini juga mengadopsi SBS , team pendarat pantai yang handal dari US Navy dan AL Inggris. Mereka biasa melakukan penerjunan malam hari di rig-rig minyak lepas pantai, dengan menggunakan skenario terorisme. Jadi sabotase dibawah laut , penghancuran dan penyerangan dari laut merupakan keunggulan satuan ini. Perlu diketahui bahwa selain tingkat fisik dan mental yang kuat, intelegensi para perwiranya juga sangat dominan.

sumber : asramfkguh02

Tag Cloud